|

Survival of the Fittest in the Concrete Jungle
* Artikel ini disadur dari Ripple #66 edisi "Modern Life" hal. 27
pict. from aghniulma.files.wordpress.com
Ibukota Negara Indonesia kini tidak kalah suram dengan masa lalu sejarahnya yang kelam. Berbagai fakta-fakta statistik kini menobatkan Jakarta sebagai kota yang memiliki kadar polusi udara dan tingkat kemacetan terburuk peringkat nomor 3 dunia setelah Mexico City dan Bangkok. Selain itu, yang lebih menyeramkan lagi adalah ramalan para ahli perkotaan yang meramalkan bahwa pada pada 2014 Ibukota Jakarta akan lumpuh total karena kemacetan! Hal ini disebabkan karena tingginya angka pembelian kendaran pribadi yang tak sebanding dengan penambahan ruas jalan. Jadi kalo mobil ditambah, tapi ruas jalan gk ditambah. Lalu lintas Jakarta emang kayaknya bakal jadi dead lock.
Tingginya tingkat kemacetan ini kemudian menyebabkan kota Jakarta dikenal sebagai kota berbiaya tinggi yang disebabkan oleh inefisiensi oenggunaan bahan bakar akibat kemacetan kronis. Setiap bulan, menurut sebuah penelitian, warga Jakarta kehilangan total Rp. 45 miliar akibat pemborosan energi bahan bakar. Polusi Co2 seharga Rp. 45 milliar perbulan ini menjadi bonus suplemen pelengkap untuk dihirup bersama seluruh warga Jakarta plus segala keruwetannya.
Hal utama pemicu berbagai keruwetan yang terjadi di Jakarta sekarang ini sebenarnya disebabkan oleh peninggalan dari kebijakan sentralisasi ekoomi jaman dulu. Fakta menyebutkan bahwa 38,11% uang Indonesia muter di Jakarta, meski jumlah penduduknya hanya sekitar 18% dari total penduduk Indonesia. Efeknya kini semua orang berbondong-bondong dan berjibaku mencari penghidupan ke Ibukota. Potret surreal kehidupan para pengadu nasib inii merupakan gambaran klasik fenomena urbanisasi di Indonesia. Ini di gambarkan secara manis dalam lawakan "Warkop DKI" di dalam salah satu filmnya yang menggambarkan fenomena urbanisasi melalui tokoh Raden Mas Ngabei Slamet, seorang desa yang ingin menjadi modern dan mengadu nasib di Ibukota.
Selain itu padatnya penduduk dan friksi kelas yang sebegitu intens, menyebabkan tinginya kriminalitas di kota Jakarta. Setiap hari, berita orang mati ditikam Jakarta adalah hal biasa. Pembunuhan, pencurian, penjambretan, perampokan, pemerkosaan, dan sejumlah aksi kejahatan lain sudah menjadi kejadian sehari-hari di jalanan Jakarta. Tidak jarang, pencuri atau pelaku tindak kejahatan yang tertangkap akan dihajar beramai-ramai hingga tewas, bahkan mayatnya dibakar. Kerasnya kota, stress, polusi udara dan ruwetnya situasi kehidupan yang tidak lagi manusiawi dan beradab utuk tempat tinggal, merupakan gambaran-gambaran utuh sebuah kota dalam krisis yang kebetulan adalah ibukota negeri kita tercinta ini.
Di lain pihak gambaran kelas menengah dan kelas atas Jakarta disibukkan dengan rasa takut yang konstan akibat intensnya friksi-friksi antar kelas sosial. Hal ini terlihat dengan tingginya penggunaan jasa keamanan yang terlihat begitu ketat dikerahkan untuk menjaga asset mereka. Satu-satuna cara mereka untuk kabur dari realita Jakarta yang horor itu adalah dengan menceburkan dirinya ke dunia post modern "Kapitalisme Hasrat" untuk bermimpi melalui konsumsi. Pergi ke salon, wisata kuliner, wisata sex, terjerat dal;am kehidupan malam, belanja kayak orang gila merupakan beberapa perangkap gaya hidup yang disediakan bagi mereka yang berduit untuk melupakan sejenak kehidupan stress dan horornya kehidupan di Jakarta. Sepanjang kamu punya duit maka kamu bisa bermimpi dengan membeli kebahagiaan yang sebenarnya ARTIFICIAL tersebut.
Di kota ini tidak ada tempat untuk jiwa yang lemah atau bimbang. Jika kamu lemah, siap-siap saja terjerembab jatuh ke gorong-gorong jalan Jakarta yang sekejam ibu tiri itu. Kalo mau selamat hidup di Jakarta yang keras, mau tidak mau kita harus rela gadai jiwa ke setan untuk ditukar dengan "duit" buat ongkos hidup di Jakarta. Setiap kelas sosial akan sibuk sendiri mempertahankan posisinya untuk selamat dari rongrongan kelas dibawahnya. Pada kenyataannya Jakarta adalah Rimba Raya Modern degan struktur piramida makan-memakan, dimana hanya yang kuat yang akan berkuasa. Inilah dunia modern dimana sikut kanan-sikut kiri adalah hal yang wajar, dan menginjak kepala orang untuk naik ke strata yang lebih tinggi adalah suatu dorongan alamiah untuk bertahan hidup di rimba raya Jakarta. Semua sibuk ngurus dirinya sendiri dan semua orang tidak perduli sedikitpun dengan orang lain.
* baca lagi artikel lainnya di RIPPLE MAGAZINE # 66 tentang MODERN LIFE only Rp. 15.000,00
sex on the internet, modernisasi dan paradigma dunia, mengMTV kan Indonesia atau mengIndonesiakan MTV?, Alienated, and may more
Demi menyeimbangkan modernisasi,
Menstimulan masyarakat untuk melakukan kegiatan yang positif dan edukatif namun menghibur.
Diperlukan dukungan dari berbagai pihak yang memang memiliki peran dalam penetrasi budaya.
Indonesian capital city as vague as it clamp past history nowadays. Various fact of statistic has presenting Jakarta to be one of high poluted and the worst traffic city at third rank in the world, after Mexico City and Bangkok. Beside of it, the more creepy thing that estimated by the urban expert is Jakarta would be totally out of action by the jam in 2014! This happen caused by incomparable of vehicle purchased and roads additon. So if those car keep to raise in amount and doesnt along with the road additon. The traffic in Jakarta surely would be DEAD LOCK.
These high level of jamming then causing Jakarta to be known as high coslty city by inefficiency used of fuel by chronic jam. Each month, based by research, citizen of Jakarta lost Rp. 45 Billion in total due to wasted of fuel. These Rp. 45 billion for Co2 polution become a bonus addition suplemen to inhale together by Jakarta citizen along with all of its complication.
Main trigger of this various complication that happen in Jakarta now is affected by Centralization economic policies in the past. The fact mention that 38,11% money in Indonesia flow in Jakarta even its total citizen is about 18% of whole country. So the effect is now people at massive amount find their life to the Jakarta. These Surreal photo of life to find livelyhood is classic picture of the phenomenon of urbanization in Indonesia. This thing is sweet depicted in jokes by “Warkop DKI” which in one of the movie describes the phenomenon of urbanization through the cast of Raden Mas Ngabei Slamet, a youngman from village that tried to be modernand bet his fate in the mother city.
Moreover, population density and the class friction that become so intense, caused high level of crimanality in Jakarta. Each day, the ordinary news that showed to us is about stabbed people . Murdering, robbering, thieving, raping, and others crime action has become daily routine at the street in the Jakarta. Often , the thief or the suspect that get caught would be gank banged till his died, evenmore the dead bodys was burned. The tough of the city, stress, air polution and complicated of life circumstance that doesnt more humanizing people to be such a livehood is a whole of city painting in a crisis that fortunately was our beloved capital city.
On the other side, the picture of middle and upper class in Jakarta is getting busy by some constant feeling of fear, impact from intens frictions between social class. This could be seen on highly use of security service that tighly mobilized to guard their assets. Their only way to escape from those horor reality was by drown themselve to post modern world “Capitalism Desire” to dreaming through CONSUMPTION. Go to salon, sex tour, culinary tour, trapped on the night life, shopping like crazy is few of lifestyle trap that privided for them that had money to forget for a while those stress and horror of life in Jakarta. As long as you had money, you would be able to dreaming by buy those happines that actually Artificial.
In this city, theres no place for a weak and hesitate soul. If you are the one then just ready to fell to sewer in the street that as meant as step mother. To be permitted to survive in case of living cost in Jakarta, pawning the soul to the devil for money, whether like it or not. Each social class busied to maintain their position from undermining below class. In fact Jakarta is a Modern Jungle with eat-eat piramyd stucture, where the strongest is ruled. This is a modern world which is getting rid off your left and right is a common thing to do, and stepping to others people head to get higher strate is a nature motivation to get survived in Jakarta crazy jungle. Everyone busy to taking care themselve and not even take concern of any others people.
Trackback(0)
 |